Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setetes Ilmu dari Tangier: Sowan ke Dr. Abdullah Abdul Mumin

Sebuah pertemuan yang hangat dan berharga. Berkumpul dengan para Ahlullah, ahli ilmu. Kami disambut dengan begitu ramah dan hangat oleh Sidi Syeikh Dr. Abdullah Abdul Mumin setiba kami di kediamannya. Di ruangan maktabah (perpustakaan) pribadi milik beliau, menggambarkan khidmatnya dalam ilmu. Pemandangan yang sangat biasa dijumpai dalam kehidupan dan di kediaman para ulama. Tidak jauh dari kitab.

Biografi Singkat

Sebelumnya, izinkan kami menyebut nama para ulama dengan laqab dan julukan yang cukup lengkap dan pantas, sebagai bentuk ta`adduban terhadap mereka.

Beliau Ustadz Dr. Syarif Abdullah Bin Muhammad Bin Ahmad Bin Hisyam Bin Shiddiq Bin Abdul Mumin. Masih satu nasab dengan Sidi Syeikh Dr. Abdul Mun’im Bin Shiddiq al-Ghumari. Sadah Ghumariyah. (Lihat sumber)

Lahir pada tahun 1977 M di sebuah Hayy (kampung) bernama Hayy Amrah kota Tangier, Maroko. Mulai menghafal Al-Quran saat duduk di bangku Marhalah Ibtidai (setara SD), lanjut Marhalah I’dadi (setara SMP), dan berhasil khatam 60 hizib (30 juz) di awal Marhalah Tsanawi (setara SMA).

Salah satu sudut kota Tangier, Maroko. Sumber: audleytravel.com

Beliau memperoleh jenjang S1 di Fakultas Ushuluddin Tetouan (tahun 2000), S2 di Universitas Ibn Tofail di Kenitra (tahun 2004), dan S3 di Fakultas Sastra dan Ilmu Kemanusiaan, Universitas Moulay Ismail di Meknes (tahun 2012).

Beliau juga sering menghadiri majelis para ulama besar sejak usia dini. Di antara majelis yang paling sering dihadirinya adalah majelis Al-Hafizh Sidi Syeikh Abdullah Bin Shiddiq al-Ghumari. Juga mengambil hadits kepada Sidi Syeikh Abdullah at-Talidi, Sidi Syeikh Hasan Bin Shiddiq al-Ghumari, dan masyayikh Maroko lainnya.

Selain di negerinya, beliau juga melakukan rihlah ilmiyah ke negeri Syam, dan berjumpa dengan masyayikh besar. Di antaranya al-Muhaddits Syeikh Nuruddin Itr, Syeikh Abdul Qadir al-Arnauth, al-Muhaddits Syeikh Muhammad al-Fatih al-Kattani, dan Syeikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi.

Di Tanah Hijaz beliau juga berjumpa dengan al-Muhaddits Abuya Sayyid Muhammad Bin Alawi Bin Abbas al-Maliki al-Hasani. Sering bertemu juga dengan para muridnya di sana, pelajar asal Asia, seperti Indonesia dan Malaysia.

Ustadz Sufi, salah satu murid Sidi Syeikh Dr. Abdul Mun’im dan Sidi Syeikh Dr. Abdullah, berkata, “Ustadzna (Dr. Abdullah) pakar ushul fiqih dan sering menjadi penguji dalam sidang doktor mahasiswa di berbagai kampus Maroko. Wawasan ilmiah beliau luas khususnya ushul fiqih, sejarah, manaqib, hadis dan tafsir.”

Kesan Kami pada Beliau

Beliau menghadiahkan masing-masing kami 6 jilid kitab.

Dalam hal kedermawanan, beliau meniru Sayyid Muhammad al-Maliki yang terkenal dengan kedermawanannya. Saat kami baru menginjakkan kaki di kediamannya, beliau berjanji akan menghadiahkan kitab kepada masing-masing kami (yang 20 orang ini), nanti ketika kami hendak berpamitan. Dan benar saja. Beliau memberi kami 6 jilid kitab yang jika kami menghitung-hitung harganya, bisa satu juta lebih. Dan sekali lagi, beliau memberi untuk 20 orang, bukan satu orang!

Tidak sampai di situ, bahkan uang sewa mobil sprinter kami pun diam-diam dibayarin ke supirnya langsung saat kami shalat Isya berjamaah menutup perjumpaan ini. Jazahullah Wa Masyayikhana Athyabal Jaza`, Wa Kats-tsarallahu Amtsalahum, Wa Ja’alana Khaira Khalaf Likhairi Salaf.

Itu dalam hal kedermawanan. Bagaimana dalam hal keilmuannya? Bagai air jernih yang mengalir deras. Ilmunya sungguh luas. Penyampaiannya jelas dan lugas. Berikut beberapa faidah PENTING yang mampu kami catan dan rangkum:

Faidah Pertama: Kemunduran Ilmu dan Meningkatnya Kejahilan

الْعِلْمُ فِي التَّنَزُّلِ وَالْجَهْلُ فِي التَّرَفُّعِ

Ilmu semakin menurun dan kebodohan semakin meningkat.

Dr. Abdullah Abdul Mumin memulai pembicaraannya dengan menyampaikan apa yang pernah disampaikan oleh Syeikh Mulla Ali Qari Rahimahullahu Ta’ala (yang wafat pada tahun 1014 H atau sekitar 1605/1606 M) tentang bagaimana kondisi keilmuan pada zamannya.

Di antara hadiah beliau: kitab Tahdzib Jami' Tirmidzi karya Sidi Syeikh Abdullah at-Talidi

Beliau menyampaikan bagaimana Syeikh Mulla Ali Qari menyaksikan kemunduran standar keilmuan secara terus-menerus, sementara pada saat yang sama kebodohan justru kian merajalela? Mereka yang memiliki ilmu lantas dijuluki “ulama” atau “syeikh” di zaman ini, pada hakikatnya adalah karena standar keilmuan sudah jauh menurun bila dibandingkan generasi awal Islam.

Seseorang yang — di zaman ini — menyibukkan diri dengan hadits Baginda Nabi ﷺ dijuluki “al-muhaddits” atau “al-hafidz”. Begitu juga dalam fann disiplin ilmu lainnya. Seandainya generasi salaf masih hidup di zaman ini, niscaya mereka akan melihatnya sebatas thalib atau thuwailib saja.

Dan inilah makna “Al Ilmu Fit Tanazzul Wal Jahlu Fit Taraffu’”. Jika kondisi keilmuan di zaman Syeikh Mulla Ali Qari Rahimahullahu Ta’ala sudah begitu memprihatinkan, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

Catatan dari penulis: Syeikh Dr. Abdullah Abdul Mumin Hafizhahullahu Ta’ala mengajak kita untuk sama-sama risau akan kondisi keilmuan yang semakin menurun dan kebodohan yang merajalela. Dan fakta yang sama-sama kita saksikan hari ini agar menjadi introspeksi diri dan menjadi tali pecut bagi kita agar terus semangat dalam menuntut ilmu.

Dan, bukan berarti beliau mengajak kita agar melihat para ulama dengan pandangan meremehkan. Bukan! Mereka, para ulama, adalah pewaris para Nabi. Hormati mereka, khidmati mereka. Siapa kita di hadapan mereka? Maka, jangan salah dalam memahami faidah beliau.

Faidah Kedua: Keberkahan dalam Anak Perempuan

Kami menyimak dengan seksama penuturan beliau.

Salah satu dari kami, yang sekaligus membimbing kami dalam rihlah ziarah ini, Ustadz Sufi Amri Tambusey, Lc. MA., beliau membawa serta istri dan putrinya yang masih kecil.

Ustadz Sufi bercerita bahwa putri pertamanya lahir bertepatan dengan hari Arafah waktu Makkah. Saat itu, gurunya, Sidi Syeikh Dr. Abdul Mun’im Bin Shiddiq al-Ghumari yang sedang berhaji dan berwukuf di padang Arafah, memberikan nama untuk putrinya.

Setelah cukup panjang lebar bercerita, Dr. Abdullah Abdul Mumin berkata:

Anak perempuan pertama yang terlahir adalah Hibatul Ula atau Muntahibatul Ula (pemberian pertama) dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

لِّلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَٰثٗا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ ٤٩

“Milik Allah lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan semua yang Dia kehendaki. Dia mengaruniakan anak perempuan kepada yang Dia kehendaki, dan mengaruniakan anak laki-laki kepada yang Dia kehendaki.” (Surah Asy-Syura ayat 49).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mendahulukan inats (perempuan) atas dzukur (laki-laki). Dan ini senada dengan bunyi hadits Baginda Rasulullah ﷺ ini : 

مِنْ يُمْنِ الْمَرْأَةِ أَنْ تُبَكِّرَ بِالْأُنْثَى

“Di antara keberkahan seorang wanita adalah melahirkan anak pertama berupa anak perempuan.”

Al Yumnu bisa bermakna keberkahan, kebahagiaan, maupun kebaikan.

Faidah Ketiga: Ijazah Haditsiyah

Dalam kesempatan emas kunjungan ini, tidak lupa kami meminta ijazah Tsulatsiyyat Imam Bukhari dan beberapa ijazah riwayat dan wirid lainnya, kepada Sidi Dr. Abdullah Abdul Mumin.

Pertama: dari Syeikh Muhammad Al-Fatih Al-Kattani

Dr. Abdullah memiliki ijazah dari Syeikh Sidi Muhammad al-Fatih al-Kattani kelahiran Maroko dan berdomisili di Suriah > dari ayahnya, Syeikh Sidi Muhammad al-Makki > dari kakeknya, Syeikh Sidi Muhammad Bin Ja’far al-Kattani, penulis kitab Ar-Risalah Al-Mustathrafah > seterusnya sanad bersambung sampai ke hadirat Nabi ﷺ.

Kedua: dari Syeikh Hasan Bin Shiddiq Al-Ghumari

Beliau memiliki ijazah secara musyafahah dan sama’an dari al-Allamah an-Nawazili al-Faqih al-Mujtahid Khatimatil Fuqaha Sidi Syeikh Hasan Bin Shiddiq al-Ghumari > riwayat dari Hafizh Dun-ya Sidi Syeikh Ahmad Bin Shiddiq al-Ghumari, marwiyyat ‘ammah.

Ketiga: dari Syeikh Abdullah At-Talidi

Beliau memiliki ijazah dari Sidi Syeikh Abdullah at-Talidi, salah satu murid terhebat Sidi Syeikh Ahmad Bin Shiddiq (yang disebutkan sebelumnya), dan murid kecintaannya. Saking cintanya Sidi Abdullah at-Talidi kepada gurunya itu, setiap kali nama sang guru disebutkan di hadapannya, ia banyak menangis. Begitu juga ketika nama kitab gurunya disebutkan, atau kitab gurunya diletakkan di hadapannya, beliau terlihat menangis. > marwiyyat dari Sidi Syeikh Ahmad Bin Shiddiq, dan beberapa riwayat dari guru-guru Syeikh Ahmad.

Keempat: dari Syeikh Nuruddin Itr

Beliau memiliki ijazah dari Syeikh Nuruddin ‘Itr, seorang ahli hadits besar dari Suriah, musytaghil dengan ilmu Jarh Wa Ta’dil. Selain ahli hadits, beliau juga merupakan seorang Sufi Rabbani, yang menimba ilmu tasawuf dari guru sekaligus mertuanya, Syeikh Sidi Abdullah Sirajuddin Radhiyallahu ‘Anhu.

Kelima: dari Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth

Beliau memiliki ijazah ‘āmmah dari Syeikh Abdul Qadir al-Arnauth, ahli hadits dari Suriah juga, dan bermukim di sana. Dr. Abdullah pernah menemuinya dan memperoleh ijazah ‘āmmah darinya.

Keenam: dari Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki

Beliau mengijazahkan hadits Musalsal Bil Awwaliyyah, Musalsal Bil Mahabbah, dan Musalsal Bil Mushafahah dari Syeikh Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani, seorang Imam Besar yang bermukim dan bermakam di Mekah. Dulu, ketika Dr. Abdullah berkesempatan ke Tanah Suci, pasti menyempatkan diri hadir di majelisnya. Majelisnya dipenuhi dengan dzikir, ilmu, kebaikan, keberkahan, manfaat, pemberian, dan kedermawanan. Tidak bisa digambarkan kecuali kalau hadir langsung di majelisnya. Banyak pelajar Asia yang menuntut ilmu dan bermukim di sana. Pelajar Indonesia dan Malaysia. Namun pelajar Indonesia lebih mendominasi. Dr. Abdullah sering menjumpai mereka di sana.

Para ulama besar dan para tokoh ternama hadir dalam majelisnya. Di antaranya, Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuni, ahli tafsir, penulis kitab Shofwatut Tafāsīr. Syeikh Ali Shabuni juga memiliki saudara kandung ahli syair yang dijuluki Sya’iru Thoybah, bernama Syeikh Muhammad Dhiyauddin Ash Shabuni yang bermukim di Madinah Munawwarah. Terlebih saat musim haji, ramai yang mengunjungi majelisnya, yang berlokasi di Rushaifah.

Ketujuh: dari Syeikh Muhammad BuKhubza

Beliau memiliki ijazah ‘āmmah dari Syeikh Faqih Muhammad BuKhubza.

Faidah Keempat: Menjaga Dzikir Penyebab Futuh

Setelah panjang lebar menyebutkan ijazah, beliau berpesan (dengan penuturan langsung dari sisi beliau, kami taruh dalam Faidah Keempat dan Faidah Kelima):

Insyaallah, jalan kalian dalam menuntut ilmu senantiasa dipenuhi oleh wirid serta menjaga dzikir yang dengannya pintu ilmu dan makrifat terbuka. Sebab, makrifat tidak akan terbuka kecuali dengan khosyyah (rasa takut kepada Allah) dan istiqomah. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ٦٩

“Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Surah Al-Ankabut ayat 69).

Juga Allah Ta’ala berfirman,

وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ ... ٢٨٢

“Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah memberikan pengajaran kepadamu.” (Surah Al Baqarah ayat 282).

Asas ma’rifah adalah shafa (kebersihan hati) sebagaimana yang disebutkan oleh Sidi Syeikh Ahmad Bin Ajibah dalam kitab Bahrul Madid. Agar bisa mentadabburi ma’rifat-Nya Allah, diperlukan hati yang bersih. Hati bisa bersih dengan memperbanyak dzikir. Ketika hati sudah bersih dari noda, terbukalah pintu ilmu, asrar (rahasia), dan anwar dari Allah Ta’ala.

وَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا؛ أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ، وَمَنْ أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ؛ أَحَبَّهُ الْمَذْكُورُ، وَإِذَا أَحَبَّكَ؛ اصْطَفَاكَ، وَإِذَا اصْطَفَاكَ؛ اجْتَبَاكَ، وَإِذَا اجْتَبَاكَ؛ جَعَلَ لَكَ وَاعِظًا مِنْ نَفْسِكَ يَأْمُرُكَ وَيَنْهَاكَ، إِذَا اجْتَبَاكَ وَاصْطَفَاكَ؛ جَعَلَ لَكَ وَاعِظًا مِنْ نَفْسِكَ يَأْمُرُكَ وَيَنْهَاكَ.

Seseorang yang mencintai sesuatu, ia akan sering-sering menyebutnya. Orang yang sering menyebutnya, akan dicintai oleh yang disebut itu.

Jika Allah mencintaimu, Dia akan memilihmu. Jika Dia memilihmu, Dia akan mengistimewakanmu.

Jika Allah telah memilihmu dan mengistimewakanmu, Dia akan menjadikan hatimu agar selalu membimbingmu dalam kebaikan, dan mencegahmu dari keburukan.

Hal ini tidak akan terwujud, kecuali dengan perkara ini (perbanyak dzikir).

Tentang tafsir ayat ini,

ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ١٣

“Allah memilih (dengan istimewa) hamba yang Dia kehendaki kepada Tauhid, dan memberi petunjuk kepada hamba yang kembali kepada-Nya.” (Surah Asy-Syura ayat 13).

Orang-orang bertanya, “Apa perbedaan ijtiba dan hidayah dalam ayat ini?”

Ahli tafsir menjawab bahwa ijtiba dalam ayat ini berkaitan dengan masyī`atullāh (kehendak Allah). Sebab telah dahulu di dalam pengetahuan azali-Nya, bahwa fulan ini dikhususkan dengan kemuliaan. Maka hamba ini menjadi pilihan-Nya.

Sementara hidayah berkaitan dengan inabah al abd (kembalinya si hamba). Inabah sama dengan taubat, yang bermakna ‘kembali’. Ketika seorang hamba ber-inabah dan bertaubat, ia melakukan perbuatan kembali kepada Allah, maka Allah berikan hidayah kepadanya.

وَهَا نَحْنُ نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَجْعَلَنَا مِنَ الْمُجْتَبِينَ — وَهُوَ الْأَسَاسُ — ثُمَّ يَجْعَلَنَا مِنَ الْمَهْدِيِّينَ بَعْدَ الْإِنَابَةِ وَالرُّجُوعِ إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. فَدَاوِمُوا عَلَى الْأَوْرَادِ وَالْأَذْكَارِ؛ لِأَنَّهَا تَفْتَحُ الْوَارِدَاتِ عَلَى الْقَلْبِ وَعَلَى الْعَقْلِ، وَأَنْ يَنْفَعَ اللهُ تَعَالَى الْعِلْمَ.

Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita hamba-hamba pilihan-Nya yang istimewa — dan inilah yang utama — juga hamba-hamba yang memperoleh petunjuk hidayah setelah bertaubat dan kembali kepada-Nya, Subhānahū Wata’ālā.

Maka dari itu, jagalah selalu wirid dan dzikir, karena ia membuka limpahan karunia (pemahaman) ke dalam hati dan akal, dan Allah Ta’ala jadikan ilmu kita bermanfaat.

Faidah Kelima: Tahap Hamba Mengabdikan Diri kepada Allah

Raudhah min riyadhil jannah.

Dan kita di dalam Thariqah menjalani tiga tahap:

Tahap pertama

Mengosongkan diri (tajarrud) dengan istighfar. Sebab langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang yang berdzikir adalah mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk seperti ananiyah (egois), menuruti hawa nafsu, dan sebagainya. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan istighfar.

Tahap kedua

Ketika ia sudah mencapai tahap pertama, maka ia masuk ke dalam tahap kedua yaitu memperbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah ﷺ. Karena shalawat adalah pintu untuk ‘uruj (naik) menuju Allah Ta’ala. Allah Ta’ala beserta para malaikat lebih dahulu bershalawat kepada Baginda ﷺ, lalu menyuruh orang-orang muslim yang beriman untuk bershalawat juga kepada Baginda ﷺ. Shalawat dijadikan tahap kedua setelah istighfar seolah-olah ia adalah muqaddimah kedua menuju Hadirat Ilahi.

Tahap ketiga

Beginilah wirid Darqawi, dimulai dengan istighfar, kemudian shalawat, lalu ‘uruj menuju Hadirat Allah dengan Kalimat Tauhid seperti wirid ‘aam berikut, 

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

֍   ֍   ֍

فَنَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يُعِينَنَا وَإِيَّاكُمْ عَلَى ذِكْرِهِ وَشُكْرِهِ وَحُسْنِ عِبَادَتِهِ، وَأَنْ يَرْفَعَ قَدْرَكُمْ، وَأَنْ يَنْشَأَ لَكُمْ، وَيَرْزُقَكُمْ مَدَدَ الْعِلْمِ وَالْمَعْرِفَةِ وَالْفَتْحَ الرَّبَّانِيَّ وَالْمَدَدَ النُّورَانِيَّ حَتَّى تَرَوْا بِنُورِ اللهِ وَتَرْفَعُونَ هَذِهِ الْأُمَّةَ فِيمَا يُسْتَقْبَلُ مِنْ أَحْوَالِهَا وَأَوْقَاتِهَا وَزَمَانِهَا، وَأَنْ يُصْلِحَ اللهَ تَعَالَى إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى.

Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar senantiasa membantu kami dan kalian istiqomah dalam berdzikir mengingat-Nya, mensyukuri-Nya, dan beribadah dengan sebaik-baik penghambaan kepada-Nya. Semoga Allah mengangkat derajat kalian, menumbuhkan (kebaikan) bagi kalian, serta mengaruniakan kalian limpahan (madad) ilmu, ma’rifat, pintu pemahaman dari Allah (al-fath ar-rabbani), dan limpahan cahaya (al-madad an-nurani), sehingga kalian dapat melihat dengan cahaya Allah dan mampu mengangkat (derajat) umat ini dalam menghadapi situasi dan kondisi di masa depan. Dan semoga Allah Ta'ala memperbaiki (segala urusan), Insya Allah.

Umar Abdul Aziz
Umar Abdul Aziz Tulislah! Dan menulislah! Agar orang yang hidup di masa depan tahu bahwa engkau pernah hidup di masa lalu.

Posting Komentar untuk "Setetes Ilmu dari Tangier: Sowan ke Dr. Abdullah Abdul Mumin"